Just another WordPress.com weblog

Ketika hati seorang wanita di terpa badai cinta maka dunia ini terasa indah. Itulah yang dikatakan sahabatku. Saat ia pertama kali mengenal apa itu definisi cinta baginya dan betapa indah rasa jatuh cinta. Gadis itu masih terlalu polos untuk mengerti arti cinta yang sebenarnya. Sampai datanglah seorang laki-laki yang memasuki dunia kami. Lelaki yang tak asing bagi kami berdua karena ia teman sekelas kami. Sahabatku jatuh cinta pada sosok laki-laki yang akhir-akhir ini mulai mengusik dunia kami. Sahabatku sedari kecil itu benar-benar terserang “virus merah jambu”. Berjuta pujian mengalir deras dari mulutnya. Aku telah coba mengingatkannya kalau dalam islam tidak ada pacaran sebelum pernikahan. Aku yakin diapun tahu hal itu. Ustad Firdaus kan pernah bilang,” Jika kau jatuh cinta, maka tanyakan pada dirimu sendiri,apakah kau siap untuk menikah? Jika iya maka menikahlah dan jika tidak maka lupakanlah ia dan berpuasalah” ,kataku berusaha mengingatkannya. Tapi usahaku ternyata tak berhasil. Kata “jadian” pun akhirnya ku dengar darinya. Dia sahabatku tampak begitu bahagia ketika ia akhirnya memiliki “pacar”. Sebagai seorang sahabat sebenarnya aku tak tahu harus bersikap seperti apa. Dari dalam sudut hati ku, aku menangis karena tak mampu menjaga sahabatku. Tapi, aku mencoba tampak bahagia dan tersenyum mendengar sahabatku bercerita tentang prosesi romantis “penembakan” yang di lakukan sosok laki-laki yang tampak bak seorang pangeran di mata sahabatku. Saat itu aku hanya mendoktrin otakku untuk berbahagia karena sahabatku bahagia. Aku tak ingin persahabatan ini berakhir hanya karena aku tak suka dia berpacaran.
Hari demi hari,minggu demi minggu,dan bulan demi bulan mereka lewati dengan status berpacaran. Sampai akhirnya aku dan sahabatku memutuskan untuk kuliah di universitas yang sama. Di sebuah kota diseberang pulau kelahiran kami. Dan laki-laki itu memilih untuk berkerja di tempat kami merangkai kenangan masa remaja bersama. Sebuah selat membentang memisahkan dua sejoli itu.
Pada awalnya mereka masih berhubungan baik, telpon dan sms tak pernah absen setiap harinya seakan dijadikan ritual kramat bagi mereka. Sampai muncullah api-api pertengkaran kecil diantara mereka. Sahabatku menghampiri ku ke kosan dengan semangat 45 menceritakan semua kejengkelannya pada laki-laki itu. Ketika ku tanya kenapa tetap dipertahankan?. Dia menjawab masih cinta. Oke lah…sebenarnya aku tak terlalu paham apa yang sahabatku maksud cinta disini. Aku hanya mampu berkata “ Allah pasti akan tunjukan jalan yang terbaik untuk kalian berdua”.
Beberapa minggu kemudian , sahabatku kembali datang. Sambil menangis ia menceritakan kalau ia “putus” dengan lelaki yang ia puja itu. Aku tanya “Kenapa?”. Ternyata lelaki itu jatuh cinta pada wanita lain. Dan wanita itupun teman kami. Aku tak tahu betapa sakitnya hati sahabatku. Tapi, tanpa sadar airmataku pun menetes dan segera ku hapus sebelum sahabat ku melihatnya. Entah kenapa hatiku sakit, sesak, ingin rasanya aku pun ikut memaki laki-laki itu. Berani-beraninya dia membuat sahabatku menangis.Dalam hati aku berteriak “ Hei..kalian kaum laki-laki..jangan pernah obral kata cinta mu pada kami. Kami wanita ada di dunia ini bukan untuk kau lukai hatinya..”. Saat itu aku benar-benar benci pada sosok laki-laki yang membuat sahabatku tersenyum bahagia kala menceritakannya dan sekarang aku melihat sosok ceria itu lunglai tak berdaya karena cinta yang ia coba definisikan sendiri.
Kejadian yang menimpa sahabatku itu , sampai sekarang masih memberikan trauma tersendiri bagiku. Sulit bagiku untuk percaya kata cinta dari laki-laki lain selain suamiku kela. Beberapa kali sosok laki-laki datang dengan kata cinta yang dikemas dengan kegombalan khas kaum adam mencoba merobohkan benteng pertahananku. aku sama sekali tak ingin terjerumus ke dalam lubang yang sama dengan sahabatku. Menghindar ..yah..aku pikir itu adalah cara yang paling tepat untuk saat ini. Dan ternyata tidakkan ku benar. Tak lama setelah aksi penghindaranku. Aku mendapat kabar para laki-laki telah berhasil menembakan panah cinta pada wanita lain. Dan..lengkaplah sudah traumaku. Aku semakin tak percaya kata cinta dan rayu dari sosok manusia yang benama laki-laki. Maaf ,mungkin tidak semua laki-laki demikian. Tapi inilah fakta yang aku temukan.

“Jika kelak aku jatuh cinta, biarkan cinta itu hanya miliki ia yang halal bagiku..”

Bandung, 26 Februari 2010
Pkl. 09.10 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: