Just another WordPress.com weblog

Rasanya bukan hal yang aneh ditelinga ketika kita mendengar kata “Anak Putus Sekolah” mirisnya tidak banyak orang yang tergetar hatinya dan tergerak untuk mencoba membantu menyelesaikan atau bahkan setidaknya peduli akan permasalahan bangsa ini. Sadar atau tidak mereka anak-anak putus sekolah itu pun generasi dari peradaban bangsa ini. Indonesia  bangsa  yang katanya kaya akan hasil alam dan keanekaragaman budaya yang begitu indah ternyata hanya mampu berlomba menampakan kekayaannya pada dunia luar. Wahai bangsaku, sadarkah kalian ibu pertiwi ini menangis melihat anak-anak bangsanya  tidak  berani untuk bermimpi.

Lihatlah, secara nasional jumlah siswa sekolah dasar (SD) yang terpaksa berhenti sekolah atau drop out (DO) menunjukkan angka ribuan. Data resmi dari 33 Kantor Komisi Nasional Perlindungan Anak (PA) di 33 provinsi pada 2007, bahkan mencatat, jumlah anak putus sekolah mencapai 11,7 juta jiwa. Sembilan juta anak dalam kelompok usia 5-14 tahun terdata sebagai pekerja anak. Bahkan di Jawa Barat setidaknya setiap tahun 1,4 juta siswa putus sekolah. Masihkah bangsa ini tetap tertidur melihat semua ini.

Tahukah wahai bangsaku? Program sekolah gratis yang kalian banggakan itu tidak lebih dari sebongkah harapan kosong yang kalian tawarkan pada ibu pertiwi ini. Namanya sekolah gratis  tapi tetap saja ada biaya yang harus mereka keluarkan. Jangankan untuk membayar biaya-biaya itu, untuk makan hari ini pun mereka tidak tahu.

Jika ada yang bertanya salah siapa semua ini terjadi? Maka jawabanya kita semua bersalah. Terlalu lama bangsa ini menganggap enteng permasalahan anak putus sekolah. Padahal, merekalah nantinya penerus bangsa ini. Bukan saatnya lagi anak putus sekolah dianggap enteng. Sekarang anak bangsa ini telah tumbuh menjadi anak yang konsumtif dan hedonis. Mereka lebih memilih turun ke jalan untuk meng-ngamen atau bahkan memasang muka polos mereka untuk meminta belas kasihan orang lain daripada harus duduk dibangku sekolah. Pola pikir mereka mulai berubah, untuk apa sekolah tanpa sekolahpun mereka sudah bisa mendapatkan uang. Mereka tumbuh menjadi generasi yang takut bermimpi untuk meraih cita-cita. Asalkan mendapatkan uang untuk makan hari ini sudah cukup membuat mereka puas. Sungguh mengerikan nasib bangsa ini kela jika semua anak bangsanya memiliki pola pikir yang demikian.

Semuanya belum terlambat, bangsa ini masih berdiri kokoh. Kita masih dapat melakukan perbaikan. Saat ini mulai tumbuh kelompok-kelompok peduli pendidikan  yang berusaha mencoba melakukan apa yang mereka bisa setidaknya untuk membantu permasalahan bangsa ini. Kelompok-kelompok inilah yang disebut para pejuang pendidikan. Mereka yang merelakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mencoba memberikan sesuatu pada dunia pendidikan bangsa ini.

Sasaran utama mereka adalah anak-anak usia dini. Akan tetapi ternyata orang tua anak-anak tersebutlah yang menjadi rintangan pertama. Orang tua yang telah memiliki asumsi  lebih baik anaknya ngamen atau berjualan dilampu merah dan mendapatkan uang dari pada harus belajar. Penyadaran pentingnya pendidikan ini dimulai dari perubahan pola pikir orang tua terlebih dahulu. Mereka harus disadarkan bahwa tidak mungkin selamanya anak-anak ini harus hidup dijalanan yang penuh bahaya. Anak-anak mereka berhak untuk merangkai masa depannya. Dengan demikian tidak akan ada lagi orang tua yang melarang anaknya untuk belajar ataupun pergi ke sekolah.

Setelah orang tua anak-anak ini sadar ternyata masalah ini belum selesai. Benar ternyata anak-anak bangsa ini telah tumbuh menjadi generasi yang konsumtif dan tidak berani bermimpi. Terlalu lama mereka hidup dijalanan sehingga membuat mereka terlena dengan uang yang dapat mereka peroleh tanpa harus belajar ataupun duduk dibangku sekolah. Ketika para pejuang pendidikan itu berusaha merangkul mereka, kembali penyadaran akan pentingnya pendidikan dan perubahan pola pikir harus dilakukan.

Belajar dari salah satu kelompok peduli pendidikan yang mencoba mengumpulkan dana dari para donatur  yang peduli akan pendidikan anak-anak bangsa ini. Mereka bertekad untuk mengembalikan kecintaan anak bangsa pada ilmu pengetahuan. Program  yang mereka tawarkan tidak sama seperti halnya program sekolah gratis yang telah dicanangkan sebelumnya. Dengan berbasis sains, seni dan teknologi mereka membuat pola belajar yang tidak terpaku pada ruang kelas. Pembelajaran dapat dilakukan dimanapun dengan memanfaatkan sekitar. Anak-anak usia dini di-doktrin untuk cinta akan ilmu pengetahuan. Materi yang di berikan tidak sama dengan yang diberikan di sekolah pada umumnya.

Anak-anak ini dikenalkan pada percobaan-percobaan sederhana yang ilmiah dan juga dikenalkan akan teknologi. Stimulus ini cukup ampuh untuk memancing rasa ingin tahu mereka yang kemudian perlahan membuat mereka haus akan ilmu pengetahuan. Selain itu, anak-anak usia dini ini diberikan pemahaman agar mereka berani bermimpi untuk merangkai masa depan. Merekapun disadarkan bahwa mereka adalah generasi penerus peradaban bangsa ini. Yakinlah merekapun kela akan tumbuh menjadi anak bangsa yang cerdas dan mampu bersaing. Dan mereka pulalah benih pejuang pendidikan.

Untuk para pejuang pendidikan. PENDIDIKAN UNTUK PERADABAN…!

Comments on: "Bukan Saatnya Lagi..Anak Putus Sekolah diAnggap ENTENG..!" (2)

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

  2. edelweis..ajah said:

    belum dibaca eum, kepanjangen bugh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: